Bireuen - Penanganan pasca bencana banjir dan tanah longsor di Aceh tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada upaya-upaya preventif untuk mengurangi risiko terulangnya bencana serupa. Kementerian PUPR melakukan assessment menyeluruh terhadap sistem drainase dan kondisi lereng di wilayah terdampak.
Di wilayah perkotaan yang terdampak banjir, tim teknis melakukan pembersihan dan normalisasi saluran drainase yang tersumbat material sedimentasi. Kapasitas saluran juga dievaluasi ulang untuk menyesuaikan dengan intensitas curah hujan yang semakin tinggi.
Pada daerah-daerah yang mengalami pendangkalan sungai, dilakukan pengerukan sedimen secara selektif. Material hasil pengerukan dimanfaatkan untuk keperluan konstruksi atau perbaikan jalan, sehingga memberikan nilai tambah sekaligus menyelesaikan masalah sedimentasi.
Untuk pengendalian erosi di daerah hulu, dilakukan penanaman vegetasi permanen dan pembangunan bangunan konservasi tanah dan air. Bronjong dan bangunan penahan sedimentasi dibangun di titik-titik strategis untuk mengurangi laju erosi yang menyumbat sungai di hilir.
Kementerian PUPR juga menggandeng masyarakat setempat dalam program pembangunan infrastruktur pengendali erosi. Pendekatan partisipatif ini tidak hanya mempercepat pekerjaan tetapi juga meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat dalam pemeliharaan.
Aspek tata ruang dan perencanaan wilayah juga menjadi perhatian. Rekomendasi teknis disampaikan kepada pemerintah daerah mengenai zonasi kawasan rawan bencana dan arahan pengembangan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Pelaksanaan pekerjaan drainase dan pengendalian erosi dilakukan secara bertahap, dimulai dari lokasi dengan tingkat ancaman tertinggi. Metode yang digunakan mengutamakan prinsip-prinsip rekayasa lingkungan yang ramah ekosistem.
Dengan pendekatan yang komprehensif ini, diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi pasca bencana tetapi juga membangun ketahanan yang lebih baik terhadap ancaman bencana di masa depan. Investasi dalam infrastruktur pengendali banjir dan erosi ini merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan.