Dukungan Kongo Untuk Pusat Gambut Indonesia, Kunci Mitigasi Perubahan Iklim Global

Sabtu, 15 November 2025

    Bagikan:
Penulis: Chairil Khalis

HANOI – Upaya global memitigasi perubahan iklim mencatat perkembangan penting. Republik Demokratik Kongo (RDK) mendukung penuh inisiatif Indonesia membentuk dan mengoperasikan Pusat Lahan Gambut Internasional. Kolaborasi dua negara pemilik gambut terbesar ini menjadi kunci melindungi salah satu penyimpan karbon terpenting di bumi.

Dukungan tersebut disampaikan Perdana Menteri RDK, Jean-Michel Sama Lukonde, kepada Presiden Joko Widodo dalam pertemuan bilateral di Hanoi. Langkah ini memiliki implikasi langsung terhadap efektivitas aksi iklim global.

Gambut: Benteng Karbon yang Semakin Rentan

Lahan gambut, yang hanya menutupi 3% daratan bumi, menyimpan karbon dua kali lipat lebih banyak dari seluruh biomassa hutan dunia. Dalam kondisi basah dan alami, gambut berfungsi sebagai penyerap karbon yang efisien. Sebaliknya, ketika dikeringkan atau terbakar, ia berubah menjadi "bom karbon," melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah masif dan memicu bencana kabut asap.

Indonesia dan RDK adalah penjaga utama benteng karbon global ini. Gambut di Cekungan Kongo diperkirakan menyimpan sekitar 30 gigaton karbon—setara dengan emisi bahan bakar fosil global selama tiga tahun. Sementara, gambut Indonesia memainkan peran kritis dalam menstabilkan iklim regional dan global.

Sinergi Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman

Pusat Lahan Gambut Internasional yang diusung Indonesia dirancang menjadi pusat unggulan untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan dukungan RDK, pusat ini dapat:

Merumuskan Standar Emas: Mengembangkan protokol baku untuk pemetaan, pemantauan, dan perlindungan lahan gambut.

Berbagi Solusi Teknis: Indonesia dapat membagikan keahlian dalam pembangunan sekat kanal, rewetting, dan sistem peringatan dini kebakaran.

Riset Kolaboratif: Menyelidiki keanekaragaman hayati gambut dan fungsi ekosistemnya untuk merancang metode konservasi yang lebih efektif.

Dukungan RDK ini merupakan investasi vital untuk masa depan bumi. Dengan menyatukan pengetahuan dari pengalaman Indonesia dan kekayaan alam RDK, dunia memiliki peluang lebih besar mencapai target Persetujuan Paris dalam membatasi kenaikan suhu global. Kerja sama ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi Selatan-Selatan dapat memimpin aksi iklim dunia.


(Chairil Khalis)

Baca Juga: BMKG: Ancaman Hujan Lebat Di Aceh, Sumut, Sumbar Berlanjut Hingga 30 November
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.