Wakil Menteri Komunikasi Dan Informatika Bertemu Dengan Direktur Jenderal DSIT Untuk Membahas Kolaborasi AI Antara Indonesia Dan Inggris

Kamis, 12 Juni 2025

    Bagikan:
Penulis: Zidan Fakhri
(ANTARA/HO-Kemkomdigi/am)

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengadakan pertemuan bilateral dengan Direktur Jenderal Teknologi Digital dan Telekomunikasi di Departemen Ilmu Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi (DSIT) Inggris, Emran Mian, untuk membahas penguatan kolaborasi kecerdasan buatan (AI) antara Republik Indonesia dan Inggris.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi kedua negara untuk saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik terkait pengembangan teknologi yang berlangsung dalam acara London Tech Week 2025 di Inggris, pada hari Selasa (10/6) waktu setempat.

"Pertemuan ini sangat penting untuk bertukar pandangan dan belajar dari pengalaman Inggris dalam mengembangkan ekosistem digital yang maju, terutama di bidang AI," ujar Nezar Patria dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, pada hari Rabu.

Fokus utama diskusi meliputi pembangunan infrastruktur AI yang kuat, pengembangan talenta digital yang berkualitas, serta penyusunan kerangka regulasi yang fleksibel untuk memastikan pemanfaatan AI yang aman, etis, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

"Kami berkomitmen untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi tantangan dan peluang AI di masa depan," ujar Nezar.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi Inggris dan Indonesia saling berbagi pengalaman serta program prioritas masing-masing negara dalam pengembangan ekosistem AI.

Salah satu fokusnya adalah infrastruktur digital untuk AI, di mana delegasi Inggris mengungkapkan bahwa mereka telah menginvestasikan lebih dari 1 miliar euro selama empat tahun terakhir untuk riset komputasi AI dan pembangunan pusat data berskala besar.

Sementara itu, Indonesia juga memprioritaskan pembangunan pusat data, chip AI, dan peningkatan daya komputasi melalui kolaborasi lintas sektor.

Program lain yang tidak kalah penting adalah mengenai pengembangan talenta digital. Indonesia terus berupaya untuk menyelenggarakan pelatihan dan kelas-kelas guna meningkatkan keterampilan SDM agar dapat mencapai target 9 juta talenta digital pada tahun 2030.

Sementara itu, Inggris menginformasikan bahwa mereka juga memiliki program serupa yang komprehensif, mulai dari menumbuhkan minat siswa terhadap teknologi, pendanaan untuk program magister dan PhD, hingga pelatihan bagi pekerja yang sudah ada agar dapat beradaptasi dengan perubahan pekerjaan yang disebabkan oleh AI.

Kedua delegasi dari masing-masing negara juga sepakat bahwa keamanan dan Etika AI merupakan hal yang penting untuk memastikan ekosistem berkembang secara positif.

Oleh karena itu, kedua negara sepakat mengenai pentingnya kerangka tata kelola AI yang kuat untuk menjamin keamanan dan penerapan etika AI yang tepat.

Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Menteri mengenai Etika AI dan sedang merumuskan regulasi AI yang lebih menyeluruh.

Sementara itu, Inggris, melalui Institut Keamanan AI (AI Security Institute), berupaya untuk menggali pemahaman ilmiah mengenai risiko AI yang canggih dan membagikan temuan ini secara internasional, termasuk melalui Laporan Keamanan AI Internasional yang melibatkan panelis dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Diskusi juga menekankan kecepatan adopsi AI di Indonesia yang sangat agresif, dengan 80 persen masyarakat beranggapan bahwa AI memberikan manfaat.

Namun, kecepatan ini juga membawa risiko disrupsi tenaga kerja, terutama di sektor media dan penyiaran, serta potensi penyalahgunaan AI untuk menyebarkan informasi yang salah dan konten berbahaya.

"Kami menyadari bahwa adopsi AI di Indonesia berkembang dengan cepat. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Inggris menjadi sangat penting untuk mempelajari cara menyeimbangkan inovasi dengan mitigasi risiko, terutama yang berkaitan dengan disrupsi sosial dan penyebaran konten negatif," ujar Wamen Nezar.

Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengadopsi pendekatan terbuka terhadap penggunaan model AI dari berbagai negara, asalkan sesuai dengan regulasi dan nilai-nilai nasional.

Kedua belah pihak sepakat untuk terus memperdalam kolaborasi, termasuk menjajaki inisiatif bersama untuk mempertemukan talenta dan inovator dari Inggris dan Indonesia.

Kunjungan ini menandai langkah penting dalam memperkuat kerja sama bilateral antara Indonesia dan Inggris di bidang AI.

Diharapkan kolaborasi ini akan menciptakan ekosistem AI yang berkelanjutan, aman, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat kedua negara.

(Zidan Fakhri)

Baca Juga: Masa Depan Esports Dipertaruhkan: Pro Player LoL Vs AI Grok Musk
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.