Trump Menargetkan Nikel, Amerika Serikat (AS) Mempertimbangkan Pengenaan Tarif Baru Terhadap Mineral Penting

Rabu, 16 April 2025

    Bagikan:
Penulis: Samuel Irvanda
(REUTERS/Nathan Howard)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada hari Selasa (15/4), menginstruksikan dilakukannya penyelidikan terkait kemungkinan penerapan tarif untuk seluruh impor mineral kritis.

Tindakan ini menandakan peningkatan terbaru dalam konflik perdagangan AS dan merupakan strategi langsung untuk menantang dominasi sektor pertambangan yang dimiliki oleh China.

Melalui perintah eksekutif yang ditandatangani di Gedung Putih, Trump meminta Menteri Perdagangan, Howard Lutnick, untuk memulai investigasi berdasarkan pertimbangan keamanan nasional, sesuai dengan Pasal 232 dari Trade Expansion Act 1962.

Pasal ini sebelumnya telah digunakan oleh Trump untuk menerapkan tarif global terhadap baja dan aluminium selama masa jabatannya yang pertama, serta untuk menyelidiki impor tembaga pada bulan Februari lalu.

Investigasi ini akan mencakup berbagai mineral kritis, termasuk kobalt, nikel, dan 17 unsur tanah jarang, serta uranium dan elemen penting lainnya yang ditentukan oleh pejabat federal.

"Ketergantungan Amerika Serikat pada impor dan kerentanan rantai pasokan dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional, kesiapan pertahanan, stabilitas harga, serta ketahanan ekonomi," demikian pernyataan Trump dalam perintah eksekutif tersebut.

Saat ini, Amerika Serikat hanya memproduksi sebagian kecil dari kebutuhan lithium-nya, memiliki satu tambang nikel tanpa fasilitas pengolahan, dan tidak memiliki tambang atau fasilitas pengolahan domestik untuk kobalt.

Untuk tembaga, Amerika Serikat memiliki beberapa tambang, tetapi hanya terdapat dua smelter dan sangat bergantung pada negara lain untuk proses pemurniannya.

Keputusan ini diambil setelah China memberlakukan pembatasan ekspor tanah jarang pada awal bulan ini, sebagai reaksi terhadap serangkaian tarif yang dikenakan oleh Trump.

Tanah jarang adalah kelompok logam yang sangat penting, digunakan dalam sektor pertahanan, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri teknologi. Meskipun AS memiliki satu tambang tanah jarang, sebagian besar proses pemurniannya masih dilakukan di China.

Pembatasan terbaru dari Beijing semakin memperkuat kekhawatiran bahwa China sedang "menggunakan dominasi mineral kritis sebagai alat tekanan geopolitik."

Tahun lalu, China juga telah melarang ekspor tiga jenis logam ke AS dan membatasi pasokan beberapa elemen lainnya.

Kondisi ini telah memicu seruan dari pelaku industri dan investor agar Washington mempercepat pengembangan proyek mineral kritis di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

(Samuel Irvanda)

Baca Juga: Pemerintah Perketat Pengawasan Lingkungan Untuk Sektor Pertambangan
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.