Mengamati Arah Perkembangan Pariwisata 2025

Jumat, 17 Januari 2025

    Bagikan:
Penulis: Ava Grace
(ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Hasil penelitian para ahli pada tahun 2023 dan 2024 menunjukkan adanya konsistensi dalam tren pariwisata, dengan fokus utama pada pengalaman budaya, pariwisata kesehatan dan kebugaran, serta ekowisata. Menyongsong tahun 2025, sektor pariwisata tetap menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selama satu dekade terakhir, pariwisata dan ekonomi kreatif telah dikembangkan secara signifikan sebagai alternatif sumber pendapatan negara dan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.

Pada tahun 2023, kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar 3,8 persen, meningkat dibandingkan dengan 3,6 persen pada tahun sebelumnya. Selain itu, nilai ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia selama tahun 2023 mencapai USD23,96 miliar.

Strategi dan kebijakan pariwisata di tahun-tahun mendatang tentunya akan dipengaruhi oleh perkembangan dan tren pariwisata yang terjadi baik di tingkat regional maupun global. Hal ini telah dianalisis oleh para ahli yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk industri, akademisi, dan pemerintah, dalam buku Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2024/2025.

Beberapa poin yang disurvei oleh para pakar mencakup tren pariwisata di masa depan, pasar potensial wisatawan asing, serta faktor-faktor kunci yang mempengaruhi pertumbuhan pariwisata, seperti yang dilaporkan oleh laman Kemenparekraf pada Minggu (29/12/2024).

Tren Pariwisata di Masa Depan

Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa minat wisatawan terhadap pengalaman budaya yang mendalam diperkirakan akan terus meningkat (58,97 persen). Tren ini mencerminkan keinginan wisatawan untuk merasakan pengalaman yang lebih autentik dan mendalam dengan budaya lokal saat berkunjung. Selain itu, 56,41 persen ahli mengindikasikan bahwa pariwisata kesehatan dan kebugaran akan menjadi tren yang signifikan, terlihat dari peningkatan minat yang terjadi pada tahun sebelumnya.

Wisatawan kini mulai memperhatikan aspek kesehatan, relaksasi, dan kesejahteraan pribadi sebagai bagian dari kegiatan mereka, terutama dalam konteks pemulihan pasca pandemi—di mana kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental semakin meningkat.

Di samping itu, wisata ramah lingkungan (46,15 persen) juga tetap menjadi tren yang relevan. Kesadaran akan isu-isu lingkungan mendorong wisatawan untuk memilih destinasi dan aktivitas yang berkelanjutan. Hasil survei para ahli pada tahun 2023 dan 2024 menunjukkan konsistensi dalam tren pariwisata, dengan fokus utama pada pengalaman budaya, pariwisata kesehatan dan kebugaran, serta wisata ramah lingkungan.

Di sisi lain, para ahli juga memprediksi bahwa aktivitas luar ruang dan petualangan akan menjadi tren yang muncul di masa mendatang. Aktivitas luar ruang tersebut meliputi star bathing, yang merupakan kegiatan menikmati pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang, Gig-tripping, di mana penggemar merencanakan perjalanan lintas negara untuk mengikuti tur artis favorit mereka, serta coolcations, yaitu konsep liburan di lokasi yang lebih sejuk seperti pegunungan, danau, dan hutan.

Pasar Potensial Wisatawan Mancanegara

Dalam upaya meningkatkan sektor pariwisata Indonesia pada tahun 2024-2025, identifikasi pasar potensial bagi wisatawan mancanegara menjadi sangat penting. Strategi pemasaran yang ditujukan kepada negara-negara dengan potensi baik dari segi kualitas maupun kuantitas akan memberikan hasil yang lebih optimal. Para ahli sepakat bahwa pasar Asia Timur (71,79 persen) memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan pariwisata Indonesia, diikuti oleh Asia Tenggara (53,85 persen) dan Oseania (51,28 persen) yang selama ini menjadi pasar utama dalam industri pariwisata Indonesia.

Aktivitas Luar Ruang

Menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, wisatawan kini mulai mempertimbangkan untuk mengunjungi destinasi yang menawarkan suasana lebih sejuk. Konsep liburan di tempat yang lebih dingin, atau yang dikenal dengan istilah coolcations, semakin diminati. Destinasi ini dapat mencakup pegunungan, danau, hutan, sungai, hingga pantai yang berada di daerah dengan iklim yang lebih sejuk.

Di Indonesia, Bali Utara muncul sebagai alternatif yang menarik dari keramaian Bali Selatan, menawarkan potensi besar untuk destinasi coolcations, terutama di kawasan Kaldera Gunung Batur yang telah diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari Global Geopark Network.

“Kementerian Pariwisata terus berupaya. Pada September 2024, Kemenparekraf bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya meluncurkan paket wisata 3B, yaitu Banyuwangi-Bali Barat-Bali Utara, yang diharapkan dapat memperluas pilihan destinasi bagi wisatawan. Paket wisata ini mencakup berbagai daya tarik yang ada di masing-masing daerah, mulai dari keindahan alam, budaya, produk wisata buatan, hingga desa wisata,” ungkap Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, pada 22 November 2024.

Beberapa destinasi wisata yang menjanjikan antara lain Desa Wisata Les, Lovina, dan Desa Wisata Pemuteran di Bali Utara. Di Kabupaten Jembrana, terdapat Taman Nasional Bali Barat yang terkenal dengan burung jalak Bali. Sementara itu, Banyuwangi menawarkan beragam destinasi menarik seperti Desa Wisata Kemiren, G-Land, Alas Purwo, serta destin

(Ava Grace)

Baca Juga: Jaminan Operasional: AirAsia Dan Citilink Tanggapi Recall Airbus A320
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.