Brussels - Greenland kembali menjadi pusat perhatian geopolitik setelah mantan Presiden AS Donald Trump memperingatkan NATO agar tidak ikut campur dalam urusan pulau otonom Denmark tersebut. Peringatan ini menegaskan posisi Greenland sebagai aset strategis dalam persaingan pengaruh antara kekuatan besar global, terutama di kawasan Arktik yang kaya sumber daya. NATO dilaporkan sedang mempertimbangkan peran yang lebih besar di wilayah tersebut.
Posisi geografis Greenland yang menghubungkan Atlantik Utara dan Laut Arktik menjadikannya lokasi ideal untuk pangkalan militer, sistem radar peringatan dini, dan pengawasan maritim. Dengan mencairnya es laut, jalur pelayaran baru terbuka, meningkatkan nilai ekonomi dan strategis pulau itu secara signifikan. Ini yang mendasari mengapa berbagai pihak, termasuk AS di bawah Trump, begitu vokal mengenai kepentingannya di sana.
Trump, dalam pernyataannya, tampaknya berusaha mengingatkan sekutu-sekutu NATO bahwa AS memiliki hak dan kepentingan historis yang lebih kuat di Greenland. Ia khawatir bahwa pendekatan multilateral aliansi dapat mengaburkan atau bahkan menantang kepemimpinan AS di wilayah tersebut. Sikap ini konsisten dengan kebijakan "America First" yang diusungnya selama menjabat.
Baca Juga: Tuntutan UU Ketenagakerjaan Baru Jadi Fokus Demo Buruh Di Depan DPR
Namun, minat NATO di Arktik didorong oleh ancaman keamanan yang nyata, terutama dari Rusia yang telah secara agresif membangun kembali pangkalan militernya di kutub dan melakukan latihan militer besar-besaran. Aliansi merasa memiliki tanggung jawab untuk menjamin keamanan anggota dekat Arktik seperti Norwegia, Islandia, dan Denmark (melalui Greenland).
Pemerintah Greenland berusaha menjaga keseimbangan yang rumit. Mereka terbuka untuk kerja sama internasional yang dapat membawa pembangunan ekonomi, tetapi sangat protektif terhadap otonomi politik dan hak-hak masyarakat Inuit. Mereka tidak ingin menjadi pion dalam permainan kekuatan besar, tetapi realitas geopolitis membatasi pilihan mereka.
Peringatan Trump ini dapat memperlambat atau mempersulit upaya NATO untuk merumuskan strategi Arktik yang komprehensif dan disepakati bersama. Beberapa negara anggota mungkin menjadi enggan untuk terlibat lebih jauh jika hal itu berarti berkonflik dengan kepentingan AS yang dinyatakan secara tegas oleh mantan presidennya yang masih berpengaruh.
Situasi ini juga memberikan peluang bagi aktor lain seperti China, yang telah berinvestasi dalam proyek infrastruktur dan pertambangan di Greenland, untuk memperdalam pengaruhnya dengan dalih kemitraan ekonomi yang tidak mengikat secara politik-keamanan. Ini pada gilirannya dapat memicu kekhawatiran lebih lanjut di Washington dan Brussels.
Pada intinya, peringatan Trump tentang Greenland adalah cerminan dari dunia yang semakin kompetitif dan terfragmentasi, di mana bahkan sekutu terdekat pun dapat berselisih atas wilayah dan pengaruh. Masa depan Greenland akan sangat bergantung pada apakah kekuatan-kekuatan luar dapat menghormati otonominya, atau justru menjadikannya arena perlombaan yang memperdalam divisi global.