Jakarta - Salah satu rute alternatif unggulan yang ditekankan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta adalah penggunaan Jalan Layang Non Tol. Saat Jalan Sudirman-Thamrin ditutup total untuk Car Free Night, JLNT diharapkan menjadi katup pengaman bagi arus kendaraan, khususnya dari kawasan sekitar Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Karet yang ingin menuju wilayah timur Jakarta. Rute layang ini memberikan alternatif bebas hambatan yang tidak terganggu oleh kegiatan di jalan bawah.
Perwakilan Dishub DKI, Syafrin, menjelaskan bahwa akses menuju JLNT dari kawasan tersebut tetap terbuka. Pengendara dapat naik ke JLNT dari pintu akses di Karet untuk kemudian melintas di atas kawasan yang ditutup. Keunggulan utama rute ini adalah menghindari simpul-simpul macet tradisional seperti Kuningan, Semanggi, atau Senayan yang diperkirakan akan padat oleh kendaraan yang dialihkan.
Setelah melintas di JLNT, pengendara memiliki beberapa pilihan keluar. Salah satunya adalah keluar menuju Jalan Prof. Dr. Satrio di kawasan Casablanca. Dari titik ini, perjalanan dapat dilanjutkan ke kawasan Tebet, Manggarai, atau bahkan Kampung Melayu. Opsi ini sangat cocok bagi warga yang tinggal atau bertujuan ke kawasan permukiman dan perkantoran di Jakarta Selatan Timur.
Baca Juga: Tuntutan UU Ketenagakerjaan Baru Jadi Fokus Demo Buruh Di Depan DPR
Pemanfaatan infrastruktur seperti JLNT dalam rekayasa lalu lintas peristiwa besar menunjukkan pendekatan yang lebih modern. Daripada sekadar mengalihkan ke jalan permukaan yang kapasitasnya terbatas, penggunaan jalan layang dapat menyerap volume kendaraan dengan lebih efisien dan menjaga kecepatan perjalanan. Ini juga mengurangi tekanan pada jalan-jalan di bawahnya.
Tentu saja, kesiapan infrastruktur pendukung juga diperiksa. Penerangan di sepanjang JLNT, kondisi jalan, serta rambu penunjuk arah harus dipastikan berfungsi optimal, terutama karena pengalihan ini berlangsung hingga dini hari. Koordinasi dengan pengelola JLNT juga dilakukan untuk memastikan kelancaran.
Bagi pengendara, menggunakan JLNT mungkin berarti menempuh jarak yang sedikit lebih jauh, namun diimbangi dengan waktu tempuh yang lebih pasti dan bebas dari kemacetan parah. Dalam konteks perayaan malam tahun baru di mana waktu sangat berharga, keandalan rute menjadi pertimbangan utama.
Oleh karena itu, Dishub secara khusus menyosialisasikan opsi ini kepada publik. Masyarakat diharapkan terbiasa memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk mendapatkan rute perjalanan yang lebih optimal, tidak hanya pada malam tahun baru, tetapi juga dalam situasi lain ketika jalan protokol mengalami gangguan.
Dengan mengoptimalkan JLNT, diharapkan arus dari kawasan selatan-tengah Jakarta dapat terdistribusi dengan baik, mengurangi potensi kemacetan beruntun di jalan-jalan alternatif permukaan. Strategi ini merupakan bagian dari upaya inteligens mengelola lalu lintas megapolitan yang dinamis.