Wisatawan Mancanegara Menurun, PHRI Badung Sebut Pola Normal Di Bulan Desember

Rabu, 24 Desember 2025

    Bagikan:
Penulis: Fitriani Hasan
Penurunan jumlah wisatawan asing di Bali setiap akhir tahun merupakan fenomena siklis karena mereka pulang kampung untuk merayakan Natal, menurut penjelasan PHRI Badung. (Antara Foto/Fikri Yusuf)

Badung - Menanggapi sorotan mengenai menurunnya kunjungan wisatawan asing ke Bali, PHRI Badung memberikan penjelasan kontekstual. Wakil Ketua PHRI Badung, Komang Alit Ardana, menyatakan bahwa kondisi tersebut bukanlah hal yang mengejutkan, melainkan bagian dari pola normal atau fenomena siklis yang terjadi setiap bulan Desember.

Alit menegaskan bahwa Desember merupakan bulan di mana wisatawan mancanegara cenderung kembali ke negara asalnya. Alasan utama yang mendorong pola perjalanan ini adalah tradisi perayaan Hari Raya Natal bersama keluarga di tempat tinggal asal. "Di bulan Desember wisatawan mancanegara itu balik ke negaranya, mungkin Natalan, seperti itu," ujar Alit.

Pola ini, menurutnya, telah berlangsung dari tahun ke tahun dan dapat diprediksi oleh pelaku industri pariwisata. Meski terjadi penurunan di sisi wisatawan internasional, industri tidak sepenuhnya lesu. Justru, terjadi pergeseran sumber kunjungan yang diisi oleh wisatawan domestik yang memanfaatkan masa libur akhir tahun.

Baca Juga: Strategi Kamboja Pertahankan Kunjungan Wisatawan Ke Angkor Wat Di Tengah Konflik

Untuk menguatkan pernyataannya, Alit menunjukkan bukti di lapangan. Ia mengamati bahwa jalan-jalan di Kuta, yang dikenal sebagai titik favorit wisatawan mancanegara, kini justru dipadati oleh kendaraan roda empat dan roda dua dengan pelat nomor dari berbagai daerah di Indonesia. Ini menjadi penanda nyata peralihan kontributor kegiatan pariwisata.

Sektor akomodasi pun mengkonfirmasi pola ini. Okupansi hotel yang masih sekitar 60-70 persen didominasi oleh tamu domestik dan diperkirakan akan mencapai titik jenuh (full booking) seiring semakin dekatnya tanggal-tanggal libur utama. Lonjakan ini diprediksi bertahan selama periode liburan panjang.

Alit mengakui adanya penurunan total kunjungan secara tahunan, dengan menyebut kondisi cuaca ekstrem sebagai faktor tambahan yang mempengaruhi. Namun, ia menolak perbandingan yang simplistis antara Bali dengan negara lain, mengingat perbedaan skala dan cakupan geografis yang dibandingkan.

Pesan inti yang ingin disampaikan adalah pentingnya memahami dinamika musiman dalam pariwisata. Fluktuasi yang terjadi, terutama terkait wisatawan mancanegara di bulan Desember, merupakan bagian dari siklus alamiah yang diimbangi oleh kekuatan pasar domestik.

Dengan pemahaman ini, Alit berharap masyarakat dan pemangku kebijakan dapat melihat kondisi secara lebih utuh. Ia pun mengajak semua pihak untuk tetap percaya dan mempromosikan Bali sebagai destinasi yang selalu siap menyambut kedatangan setiap wisatawan, kapan pun waktunya.

(Fitriani Hasan)

    Bagikan:
komentar